Gejala Pengaruh Pop Art
Last Updated on Friday, 01 June 2012 03:39 Written by Sri Novianti dan Dwi Fika Rahmawati (MOVE-Media Indonesia) Thursday, 16 February 2012 15:53

Gaung pop art di era pascamodern merupakan sebuah paduan yang pas. Tak dapat dimungkiri, paduan tersebut melahirkan bermacam-macam gaya desain baru, punk, retro art, pshychedelic, new wave, dan lain-lain.
Maka, tak berlebihan bila dalam perkembangannya, khususnya di Indonesia, muncul pula gerakan-gerakan akibat pengaruh gejala pop art tersebut. Komunitas Wedha's Pop Art Portrait (WPAP) salah satu buktinya.
Adalah Wedha Abdul Rasyid, sang founder, yang kemudian namanya dipatenkan dalam penamaan seni baru tersebut. Perjalanan panjangnya pun pada akhirnya menarik minat banyak orang sehingga tercipta komunitas WPAP yang diresmikan pada 27 September 2010 dan diketuai Itock Soekarso. Di usianya yang relatif muda, komunitas WPAP sudah memperlihatkan eksistensinya. Sebenarnya pop art bukanlah gaya baru dalam seni. Toh pada kenyataannya, pop art telah ada pada 1950-an di Inggris dan Amerika yang kemudian dipopulerkan Lawrence alloway, seorang kurator sekaligus kritikus di Inggris. Akan tetapi, yang berbeda dalam WPAP ini ialah tidak adanya garis lengkung dalam proses pembuatannya.Rutinitas komunitas WPAP untuk newbie berkesan unik. “Newbie diwajibkan membuat 10 karya WPAP untuk kemudian dievaluasi, bila berhasil dapat sertifikat dari Pak Wedha,” kenang Slamet Riyadi, anggota komunitas yang beberapa bulan lalu masih menjadi newbie. Saat itu, ia termasuk dalam angkatan tiga. “Kita para anggota berlomba-lomba mendapatkan poin lebih banyak, untuk menunjukkan seberapa banyak aktivitas member,” tambah Rachmi Widhiesti, pemegang poin terbanyak saat ini. Member dengan poin terbanyak memang berhak mendapatkan hadiah.
Tidak hanya sebatas itu, seni tersebut benar-benar berbeda dari seni murni lain yang tidak ada aturan dalam melahirkan karya. “Kita punya ciri khas, aturan, dan pakem tertentu,” ujar Gunawan Syarifuddin, salah satu mahasiswa Program Kelas Karyawan (PKK) Universitas Mercu Buana (UMB) yang juga menjadi bagian dalam komunitas tersebut. Lebih lanjut dijelaskan, tidak ada pakem untuk menghasilkan kreativitas, pakem dipakai untuk mempertegas ciri khas WPAP saja.
Pakem tersebut, antara lain, jangan sampai ada lengkung, pemakaian komposisi warna sekunder dan tersier, serta tekstur. Setali tiga uang dengan Gunawan, Wedha pun menuturkan pakem bukanlah hambatan. Si pembuat WPAP harus berani menentukan warna dan tetap mengeksplorasi kreativitasnya.
Eksistensinya yang lebih terlihat via internet justru membuat komunitas ini lebih dinamis. “Kita para anggota lebih sering share di web karena memang anggota komunitas yang menyebar di Indonesia dan beberapa dari luar negeri,” ujar Gunawan. Ia pun mengungkapkan jumlah anggota yang terdaftar saat ini sekitar 900 orang.
Registrasi yang mudah hingga base camp yang strategis menjadikan komunitas ini banyak diminati. “Kami menyebutnya house of WPAP, bertempat di Bilangan, Bintaro,” seru Gunawan, semangat. Harapan demi harapan terlontar dari beberapa anggota komunitas tersebut.
Sebagian besar masih memiliki misi untuk memopulerkan WPAP. “Seni Vektor asli Indonesia harus dilestarikan,” ujar Jadmiko Agung Wicaksono, yang sudah tiga bulan menjadi anggota. “Komunitas ini militan, semangatnya didasari keinginan bersama untuk mengangkat WPAP. Sebab peluang bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di dunia.” Demikian Gunawan memaparkan misi utama WPAP seraya menutup percakapan.
*PE (M-6) Monday August 8, 2011

